Semarang, Berita 87.com|| suatu artikel yang sangat memotivasi untuk anak yang berprestasi namun tanpa pengakuan,
Alasan klasik pemerintah:
“Agar psikologis siswa stabil, supaya mental mereka tidak down.”
Kedengarannya mulia.
Tapi kalau dipikir pakai akal sehat, ini justru logika yang rapuh dan malas berpikir.
Coba kita luruskan.
Di lomba non-akademik — lari, sepak bola, tari, pidato — SELALU ADA JUARA.
Padahal jelas, tidak semua anak berbakat di sana.
Apakah anak yang kalah lomba lari langsung trauma seumur hidup?
Tidak.
Justru kebanyakan dari mereka berlatih lebih keras atau sadar di mana kemampuan mereka berada.
Lalu kenapa prestasi akademik justru disembunyikan?
Apa salahnya anak yang belajar keras, begadang, konsisten, dan disiplin diberi pengakuan?
Kalau logika “takut mental down” dipakai, sekalian saja:
😜Tidak usah ada juara lomba apa pun
😜Tidak usah ada nilai
😜Tidak usah ada evaluasi
Semua disamaratakan.
Yang rajin disamakan dengan yang malas.
Yang berjuang disuruh diam demi kenyamanan yang lain.
Ini bukan melindungi anak.
Ini menghukum usaha dan memanjakan kemalasan.
Anak-anak yang ingin ranking itu bukan jahat.
Mereka hanya ingin hasil kerja kerasnya diakui.
Dan anak yang belum mampu?
Bukan diselamatkan dengan menghapus ranking,
tapi dibimbing agar mau berusaha lebih baik.
Hidup nyata tidak mengenal “semua sama”.
Dunia kerja, kompetisi, dan kehidupan sosial penuh penilaian.
Kalau sejak kecil anak tidak diajarkan menghadapi hasil,
maka yang kita besarkan bukan generasi kuat,
tapi generasi rapuh yang alergi evaluasi.
Setiap pencapaian HARUS diapresiasi.
Bukan dihapus demi kebijakan instan yang malas berpikir.
( sumber FB, Eben Eiyer Ritonga)
( Editor, Adi – Berita 87 jateng)
#PembagianRapor
#PrestasiBukanDosa
#HargaiUsaha
#StopNormalisasiMalas


