Kabupaten Samosir, Berita87.com
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 1 kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung pengurangan emisi karbon melalui Program Desa Bebas Karbon di Desa Huta Tinggi, Kabupaten Samosir.
Setelah sebelumnya meresmikan program tersebut, Pelindo kini menyalurkan bantuan mesin penepung untuk mengolah bonggol jagung menjadi briket arang, Senin (24/11/2025).
Program ini dirancang untuk memanfaatkan limbah pertanian, khususnya bonggol jagung, agar bernilai guna dan mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Pada tahap awal, kelompok binaan Pelindo, Marsada Tani Huta Tinggi, memperoleh pelatihan membuat briket secara manual. Proses pembakaran dan penumbukan bonggol jagung dilakukan dengan alat sederhana sebelum dicetak menjadi briket arang.
Melihat keseriusan kelompok binaan dalam mengembangkan keterampilan tersebut, Pelindo kemudian memberikan dukungan lanjutan berupa mesin penepung.
Manager Hukum dan Humas Pelindo Regional 1, Fadillah Haryono, mengatakan bantuan diberikan melalui tahapan yang sistematis.
“Pertama kami memberikan pelatihan untuk membangun pengetahuan kelompok. Kemudian kami dampingi proses pembuatannya secara sederhana agar terbentuk kebiasaan baru. Dalam satu pekan, pendamping kami melakukan pembinaan dua kali,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pelindo akan memberikan bantuan berikutnya berupa perangkat lengkap produksi briket, mulai dari tungku pirolisis, mesin pengaduk, hingga mesin pencetak briket. “Harapannya dapat menambah ruang kerja baru bagi masyarakat Desa Huta Tinggi,” ujarnya.
Salah satu petani jagung yang tergabung dalam kelompok binaan, Parelli Situmorang, mengaku sangat terbantu dengan program ini. “Kami berterima kasih kepada Pelindo. Selama ini bonggol jagung hanya saya bakar. Ternyata bisa diolah menjadi produk,” ujar Parelli.
Pendamping Program Desa Bebas Karbon, Rizki Damanik, menjelaskan kelompok Marsada Tani telah berhasil memproduksi 784 briket atau sekitar 65 kilogram. “Targetnya hingga akhir tahun dapat mencapai 100 kilogram. Tantangannya, sebagian besar anggota kelompok juga memiliki aktivitas utama sebagai petani,” ucapnya.
Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat desa yang berkelanjutan dan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon di tingkat lokal. (Endan)


