Lampung Selatan — BERITA87.COM,
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan peserta didik, kini menuai sorotan tajam. Salah satu dapur MBG yang berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, diduga menjadi ladang bisnis dan tidak sepenuhnya menjalankan prinsip transparansi serta keadilan dalam pendistribusian paket makanan kepada siswa.18/12/2025
Sorotan ini mencuat setelah awak media melakukan konfirmasi langsung kepada Ananda, pihak dapur MBG, terkait paket makanan yang diterima siswa SMP Negeri 1 Sidomulyo.
Dalam keterangannya, Ananda membenarkan komposisi paket makanan yang diberikan kepada siswa, yakni
hari 1
telur
pear
susu
roti
hari 2
roti
kelengkeng
telur
susu
hari 3
roti
susu
Namun, yang menjadi perhatian publik, paket tersebut dibagikan sekaligus untuk tiga hari (dirapel).
“Iya benar pak, langsung dirapel 3 hari, soalnya hari ini bagi rapor,” ujar Ananda kepada awak media.
Ia juga merinci biaya masing-masing item makanan:
Rp6.000
Rp9.750
Rp4.600
Rp2.029
Rp5.499
Total keseluruhan mencapai Rp27.878, dan itu belum termasuk ongkos kirim.
Lebih lanjut, Ananda menyampaikan bahwa anggaran MBG berbeda-beda berdasarkan jenjang pendidikan.
“Buat tk sampe sd kelas 3 8000 buat sd kelas 4 sampe sma 10.000”
Namun pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan baru terkait logika anggaran dan kualitas distribusi.
“Coba logikanya mas, susu, roti, sama telur itu kalau dihitung berapa anggarannya? Porsi ini aja udah lebih dari sepuluh ribu, itu kenapa disilangin sama hari selanjutnya,” ucapnya.
Di sisi lain, keluhan datang dari wali murid SMPN 1 Sidomulyo. Salah satu wali murid mengungkapkan bahwa meskipun anaknya menerima tiga paket untuk tiga hari, isi paket tersebut tidak seragam.
“Anak saya dapat tiga paket, tapi dari tiga itu, ada satu paket yang tidak ada telur dan buah-buahannya. Jelas ini tidak sesuai,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ketidaksesuaian isi paket ini menimbulkan dugaan adanya pengurangan, ketidakkonsistenan, atau distribusi yang tidak terkontrol, padahal anggaran telah ditentukan dan bersumber dari dana negara.
Diduga Komersialisasi Program Sosial
Praktik pembagian paket secara dirapel, perbedaan isi paket, serta minimnya keterbukaan rincian anggaran menimbulkan dugaan bahwa program MBG di dapur tersebut tidak sepenuhnya berorientasi pada kepentingan gizi siswa, melainkan lebih condong pada efisiensi bisnis.
Padahal, MBG adalah program strategis nasional yang harus:
Transparan
Akuntabel
Tepat sasaran
Mengutamakan kualitas gizi, bukan keuntungan
Perlu Evaluasi dan Pengawasan Ketat
Publik kini mendesak agar
Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan
Instansi pengawas program MBG
Aparat pengawasan internal pemerintah
segera turun tangan melakukan evaluasi dan audit, khususnya terhadap:
Pengelolaan dapur MBG Desa Sidomulyo
Kesesuaian anggaran dengan realisasi
Kualitas dan kelengkapan paket makanan
Mekanisme distribusi kepada siswa
Jika dugaan ini dibiarkan tanpa klarifikasi dan pengawasan, dikhawatirkan program yang seharusnya menyehatkan anak bangsa justru menjadi ajang bisnis berkedok bantuan sosial.
Kabiro Lamsel


